Kenali 7 Penyakit Paru Tersering di Indonesia

Paru adalah salah satu organ Vital bagi kehidupan manusia. Bila organ ini tidak berfungsi,manusia atau mamalia yag berapas dengan paru tidak akan hidup.Sunhope mengadakan seminar kesehatan yang membahas Penyakit Paru yang sering di Indonesia dengan mengundang Spesialis Paru FKUI/SMF Paru-RS.Persahabatan Dr.Ahmad Hudoyo,Sp.P.

1. ASMA ( atau Asma Bronkial )

Serangan asma terjadi terutama bila ada faktor pencetus. Faktor pencetus serangan asma dari luar dapat berupa perubahan cuaca (dingin, hujan, gerah), debu, polusi udara, zat-zat kimia mulai dari obat anti nyamuk, sampai wangi-wangian atau berbagai jenis makanan. Dari dalam tubuh dapat berupa infeksi virus, sinusitis atau stres (banyak pikiran, emosi dll). Semua faktor pencetus tersebut bersifat individual dimana faktor pencetus satu orang berbeda dengan faktor pencetus orang lain.
Pengobatan untuk asma, sekali lagi yang utama sebenarnya adalah MENGHINDARI FAKTOR PENCETUS. Obat untuk asma terdiri dari OBAT PELEGA dan OBAT PENCEGAH. Pada asma yang ringan dengan serangan yang sangat jarang, kadang hanya sekali atau 2 kali dalam setahun, obat yang digunakan cukup obat pelega saja. Untuk jenis asma sedang atau berat dengan serangan yang lebih sering terjadi maka obat pelega harus disertai obat pencegah.1. TUBERKULOSIS (TB)

Penyakit tuberkulosis atau TB paling sering menyerang organ paru, tetapi sebagian kecil dapat menyerang organ-organ lain, misalnya otak, tulang, kelenjar getah bening, kulit, usus, mata, telinga dll. Lokasi dari organ yang tekena TB menunjukkan gejala khusus, misalnya TB usus akan menimbulkan gejala diare yang tidak sembuh-sembuh. TB kelenjar bening biasanya tidak menimbulkan keluhan, kecuali kelenjar getah bening di leher yang makin lama makin membesar. TB tulang, tergantung letak tulang yang terkena, yang tersering adalah tulang belakang dengan tanda klinik berupa tulang punggung yang menonjol dan bengkok. TB telinga akan mengeluarkan cairan dari telinga-tengah biasanya jernih dan tidak berbau. TB selaput otak akan memberi gejala yang lebih berat, seperti kejang-kejang dan kaku kuduk. Temasuk TB ekstra paru tetapi masih dirongga paru yaitu Pleuritis TB, suatu penyakit TB dengan manifestasi menumpuknya cairan dirongga paru, tepatnya diantara lapisan luar dan lapisan dalam paru. Gejala yang timbul berupa demam sakit dada dan demam tinggi, bila jumlah cairan yang menumpuk sangat banyak akan menimbulkan sesak napas. TB ekstra paru tersebut dapat berupa penyakit yang berdiri sendiri atau kadang bersamaan dengan penyakit TB Paru. Pengobatan TB yang optimal adalah 6 (enam) bulan.

3. PNEUMONIA

Pneumonia adalah infeksi di paru yang disebabkan oleh kuman atau bakteri selain kuman tuberkulosis. Pneumonia merupakan penyakit yang tidak menular. Dikenal 2 jenis pneumonia, yaitu pneumonia yang dijumpai di masyarakat dan pneumonia yang terjadi di rumah sakit (pneumonia-nosokomial). Untuk yang pertama, kuman yang sering menyebabkan adalah Streptokokus dan Stafilokokus. Sedang untuk yang kedua, kuman Pseudomonas adalah yang sering ditemukan. Pengobatan yang utama adalah pemberian antibiotika. Tahap awal sebelum ada hasil biakan kuman dari dahak, pemberian antibiotika diberikan secara empirik. Hal ini tergantung dari pengalaman dokter untuk memilih antibiotika. Dalam keadaan berat sebaiknya penderita dirawat di rumah sakit. Komplikasi : Sepsis (kuman menyebar keseluruh tubuh melalui aliran darah), emfisema dan abses paru.

4. BRONKITIS

Bronkitis adalah radang saluran napas. Dikenal 2 jenis bronkitis, yaitu akut dan kronik. Bronkitis akut dapat disebabkan oleh infeksi maupun bahan-bahan yang merangsang, termasuk bahan kimia. Infeksi bisa oleh virus atau bakteri. Bronkit kronik sifatnya irreversible (menetap/tidak bisa sembuh) dan progresif, artinya penyakit makin lama makin berat. Penyebab bronkitis kronik adalah bahan iritan, radikal bebas serta gas-gas yang beracun yang mengiritasi selama beberapa puluh tahun secara terus-menerus. Gas-gas berbahaya tersebut terdapat didalam asap rokok.

5. KANKER PARU

Kanker adalah pertumbuhan jaringan yang ‘ganas’ dengan ciri pertumbuhan tidak terkendali, cepat dan menyebar jauh. Penyebaran kanker paru yang sering terjadi yaitu ke hati, otak dan kelenjar ginjal. Penyebab kanker secara umum memang belum jelas tetapi khusus untuk kanker paru, kebiasaan merokok ternyata mempunyai hubungan yang jelas, karena dari 100 orang yang menderita kanker paru, 90 orang diantaranya ternyata mempunyai riwayat kebiasaan merokok sebelumnya. Hubungan yang erat ini juga terbukti dengan dosis-akibat. Bila seseorang merokok lebih lama, lebih banyak jumlah batang, lebih dalam cara menghisapnya maka kemungkinan terkena kanker paru lebih tinggi. Pengobatan tergantung jenis kanker dan stage/stadium/derajat.Untuk mengetahui jenis biasanya dilakukan BIOPSI. Dengan biopsi kita bisa membedakan tumor itu JINAK atau GANAS (KANKER).

6. EMFISEMA

Emfisema yaitu keadaan paru yang lembek dan sudah kehilangan elastisitasnya. Emfisema disebabkan oleh asap rokok, karena dalam asap rokok terkandung zat yang merusak jaringan elastin dalam paru. Bila paparan ini berlangsung setiap hari selama berpuluh-puluh tahun maka kerusakan yang sedikit, lama kelamaan menyebabkan kerusakan yang masif dan permanen. Karena jaringan elastin ini rusak maka gelembung udara (alveoli) menjadi lembek, dan beberapa mengalami kerusakan. Akibatnya udara kotor (CO2) tidak bisa dipompa keluar dengan kata lain terperangkap di dalam paru, sehingga menumpuk di dalam paru (sebagian diserap lagi kedalam darah). Hal ini berakibat menghambat masuknya udara bersih atu O2 masuk kedalam paru. Penyakit Emfisema bersama dengan Bronkitis Kronik digolongkan menjadi Penyakit Paru Obtruktif Kronik (PPOK).

7. PLEURITIS (Paru-paru Basah ? )

Pleuritis, bila diterjemahkan secara harfiah adalah ‘radang pleura’. Pleura adalah lapisan tipis pembungkus paru. Dikenal 2 macam pleuritis, yaitu yang kering dan basah. Di Indonesia paling sering dijumpai radang selaput paru yang basah. Efusi pleura adalah penumpukan cairan di rongga pleura. Kelainan bisa disebabkan penyakit di paru maupun dari luar paru. Volume cairan juga bervariasi, mulai sedikit sampai lebih dari 1 liter. Bila volume cairan banyak, akan menimbulkan keluhan sesak napas yang makin lama makin berat. Keadaan ini harus segera mendapatkan penanganan. Pengobatannya dilakukan dengan tindakan terapeutik adalah mengambil cairan sebanyak-banyaknya sampai sesak napas menghilang. Pengobatan selanjutnya tergantung penyebab pleuritis.

PENUTUP

Dengan mengetahui berbagai penyakit paru dan bagaimana penyakit tersebut terjadi, maka dapat dilakukan upaya-upaya pencegahannya. Pola hidup sehat, gizi atau nutrisi yang baik disertai olahraga secara teratur, akan mampu meningkatkan daya tahan tubuh untuk menangkal berbagai penyakit. Menghindari polusi udara, usaha menjauhi asap rokok atau berhenti merokok adalah usaha yang mulia dalam rangka MENSYUKURI NIKMAT TUHAN. Meskipun kemajuan dalam pengobatan ilmu kedokteran sudah demikian pesat, akan tetapi semua bentuk pengobatan, untuk penyakit apa saja akan memerlukan biaya yang tidak sedkit, disamping kehilangan waktu yang sangat berharga, maka ungkapan lama masih tetap berlaku, yaitu :”Lebih Baik Mencegah Daripada Mengobati”