ASMA

Zaman yang kian berkembang tak menutup kemungkinan munculnya trend penyakit baru baik karena faktor lingkungan maupun pola hidup seseorang. Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian KesehatanTjandra Yoga Aditama mengatakan salah satu penyakit tidak menular yang masih mengancam kesehatan masyarakat di tahun 2014 adalah ASMA  (www.depkes.go.id).

Penyakit asma dapat terjadi pada siapa saja dan timbul di segala usia. Meskipun demikian, umumnya asma lebih sering terjadi pada anak-anak usia di bawah lima tahun dan orang dewasa pada usia sekitar tiga puluh tahunan. Penyakit asma banyak ditemukan pada anak-anak, terutama yang tinggal di daerah perkotaan dan industri. Penyakit ini juga lebih sering ditemukan dinegara maju dibandingkan dengan negara berkembang. Hingga tahun 2011, terhitung 235-300 juta orang di seluruh dunia menderita asma dan sekitar 250.000 orang meninggal per tahun karena penyakit asma.

Apa itu Asma??

Penyebab penyakit asma belum diketahui secara pasti namun diketahui secara jelas bahwa saluran pernapasan penderita asma memiliki sifat yang khas yaitu sangat peka terhadap berbagai rangsangan (bronchial hyperreactivity=hiperaktivitas saluran napas) baik dari dalam maupun dari luar. Asap rokok, tekanan jiwa, dan allergen pada orang normal tidak menimbulkan asma tetapi pada penderita asma rangsangan tersebut dapat menimbulkan serangan. Asma bisa bersifat ringan dan tidak menggangu kesehatan namun juga bisa bersifat menetap dan menggangu aktivitas harian.

Asma merupakan inflamasi kronik saluran napas. Berbagai sel inflamasi berperan terutama sel mast, eosinofil, sel limfosit T, makrofag, neutrofil dan sel epitel. Faktor lingkungan dan berbagai faktor lain berperan sebagai penyebab atau pencetus inflamasi saluran napas pada penderita asma. Inflamasi terdapat pada berbagai derajat asma baik pada asma intermiten maupun asma persisten. Inflamasi dapat ditemukan pada berbagai bentuk asma seperti asma alergik, asma nonalergik, asma kerja dan asma yang dicetuskan aspirin. Berdasarkan pedoman diagnosis dan penatalaksanaan Asma yang dikeluarkan oleh PDPI (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia) mekanisme penyebab penyakit Asma adalah sebagai berikut:

Inflamasi Akut Pencetus serangan asma dapat disebabkan oleh sejumlah faktor antara lain alergen, virus, iritan  yang dapat menginduksi respons inflamasi akut yang terdiri atas reaksi asma tipe cepat dan pada sejumlah kasus diikuti reaksi asma tipe lambat.

Reaksi Asma Tipe Cepat

Alergen akan terikat pada IgE yang menempel pada sel mast dan terjadi degranulasi sel mast tersebut. Degranulasi tersebut mengeluarkan preformed mediator seperti histamin, protease dan newly generated mediator seperti leukotrin, prostaglandin dan PAF yang menyebabkan kontraksi otot polos bronkus, sekresi mukus dan vasodilatasi.

Reaksi Fase Lambat

Reaksi ini timbul antara 6-9 jam setelah provokasi alergen dan melibatkan pengerahan serta aktivasi eosinofil, sel T CD4+, neutrofil dan makrofag.

Inflamasi Kronik Berbagai sel terlibat dan teraktivasi pada inflamasi kronik. Sel tersebut ialah limfosit T, eosinofil, makrofag, sel mast,  sel epitel, fibroblast dan otot polos bronkus.

Kenali Gejala Asma

Frekuensi dan beratnya penyakit asma bervariasi, beberapa penderita asma lebih sering terbebas dari gejala dan hanya mengalami serangan sesak nafas yang singkat dan ringan dan terjadi sewaktu-waktu. Sedangkan penderita lainnya hampir selalu mengalami batuk dan mengi (bengek) serta serangan hebat setelah menderita infeksi virus, olahraga atau setelah terpapar oleh alergen maupun iritan.

Serangan asma dapat pula terjadi secara tiba-tiba ditandai dengan nafas yang berbunyi (wheezing, mengi, bengek) batuk dan sesak nafas. Bunyi mengi tersebut terutama terdengar saat penderita asma menghembuskan nafasnya. Serangan asma juga dapat terjadi secara perlahan dengan gejala yang secara bertahap semakin memburuk. Saat keadaan tersebut terjadi, pertama kali yang dirasakan oleh penderita asma adalah sesak nafas, batuk atau rasa sesak di dada. Lamanya serangan bisa beberapa menit atau sampai beberapa jam, bahkan bisa selama beberapa hari.

Pada anak-anak gejala awalnya bisa berupa rasa gatal di dada atau di leher. Batuk kering di malam hari atau ketika melakukan olahraga. Selama serangan asma terjadi sesak nafas bisa semakin berat, sehingga timbul rasa cemas dan mengeluarkan banyak keringat.

Saat serangan yang sangat berat, penderita menjadi sulit untuk berbicara karena sesaknya sangat hebat. Walau mengalami serangaan yang berat, biasanya penderita akan sembuh sempurna.

Gejala lain seperti kebingungan, letargi atau menurunnya kesadaran dimana penderita seperti tidur lelap, tetapi dapat dibangunkan sebentar kemudian segera tertidur kembali. Sianosis (kulit tampak kebiruan) adalah tanda bahwa persediaan oksigen penderita sangat terbatas dan perlu segera dilakukan pengobatan. Terkadang berupa alveoli (kantung udara di paru-paru) bisa pecah dan menyebabkan udara terkumpul didalam rongga pleura atau menyebabkan udara terkumpul  di sekitar organ dada. Hal tersebut tentunya akan memperburuk sesak yang dirasakan oleh penderita.

Apakah Anda salah satu yang beresiko Asma??

Berkembangnya penyakit Asma merupakan interaksi antara faktor pejamu (host factor) dan faktor lingkungan. Faktor pejamu meliputi genetic asma, alergik (atopi), hiperaktiviti bronkus, jenis kelamin dan ras. Sedangkan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi timbulnya asma meliputi alergen, sensitisasi lingkungan kerja, asap rokok, polusi udara, infeksi pernapasan (virus), diet, status ekonomi dan besarnya keluarga. Faktor lingkungan hanya meningkatkan risiko asma pada indvidu dengan genetik asma. Baik lingkungan mauopun genetic masing-masing meningkatkan risiko penyakit asma.

Asma dan Antioksidan

Penumpukan radikal bebas di saluran pernapasan yang tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan peradangan dan memicu kekambuhan asma. Mengonsumsi makanan yang kaya akan antioksidan akan sangat membantu untuk mengatasi kekambuhan asma. Selain itu diperlukan kapasitas antioksidan endogen yang cukup untuk mengatasi paparan radikal bebas yang direspon negatif oleh penderita asma. Kemampuan penderita Asma untuk memproduksi enzim lebih rendah sehingga secara umum, kapasitas antioksidan endogen di tubuh penderita asma lebih rendah dibandingkan dengan orang sehat. Selain itu mereka juga memproduksi ROS (Reactive Oxygen Species) dalam jumlah banyak yang harus direduksi oleh antioksidan yang tersedia. Kondisi ini membuat cadangan antioksidan yang tersedia didalam tubuh sebagian besar harus digunakan untuk mereduksi radikal bebas endogen yang ada di dalam tubuh. Penambahan asupan omega 3 dari ikan atau dalam bentuk suplemen sangat baik bagi penderita asma. Omega 3 bermanfaat untuk mencegah dan menurunkan level peradangan sekaligus sebagai antioksidan untuk mereduksi radikal bebas penyebab asma.  Konsumsi omega 3 yang mengandung 200 mg EPA dan 300 mg  DHA sebanyak 2.000 mg perhari, apabila dilakukan secara rutin sangat efektif untuk mencegah serangan asma.

“Mari cegah Asma dengan makanan dan minuman yang bergizi serta tingkatkan kesehatan optimal Anda”

Sumber: Berbagai sumber

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *